Jumat , 21 Februari 2020
Kardi Sudrajat yang terlihat sedang berjualan jus buah. FOTO: Istimewa/ Fakta Bekasi.

Politikus Nyambi Usaha Jus, Curhat Soal Kesejahteraan Masyarakat Sampai Panlih Wabup Bekasi

Facebooktwittergoogle_plusmail

Fakta Bekasi, CIKARANG PUSAT–Sebagai politikus sekaligus aktivis, Kardi Sudrajat yang akrab dipanggil ‘Bah Sarkadut’ cukup serius menggeluti usaha jus buah yang baru dirintisnya.

Baginya, jadi politikus dari Partai Demokrat Kabupaten Bekasi dan aktivis bukanlah mata pencaharian yang bisa menghidupi keluarga. Selama ini dirinya gabung di kepegurusan salah satu partai hanya monitoring dan mewarning kebijakan Pemerintah Daerah (Pemda) yang programnya sampai saat ini belum dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Tidak bisa, di partai (politikus,red) dijadikan tempat menggantungkan nasib dan mencari rejeki. Tidak sedikit politikus terjerumus banyak kasus korupsi, karena sebagai politikus mereka jadikan mata pencaharian utama hingga akhirnya menghalalkan segala cara untuk mengkeruk uang sana sini,” ujar dia, Sabtu (21/12/2019).

“Sama halnya dengan aktivis. Bila aktivis dijadikan sebagai mata pencaharian untuk mengais rejeki, alhasil sikap idealis yang seharusnya dimiliki seorang aktivis tidak ada. Jadi antara idealis dengan kebutuhan hidup terus menghantui mana yang didahulukan,” sambung dia.

Masih menurut Bah Sarkadut, jangan pernah malu berjualan apapun yang penting halal, beranilah untuk mandiri dengan jerih payah sendiri daripada mencari rejeki dengan mengharapkan sogokan dan imbalan dari orang yang Zholim.

Menyinggung ramainya berita soal Panlih Wakil Bupati dan figur atau tokoh yang ikut mendaftar, menurut Bah Sarkadut semua hanya bersandiwara saja!.

“Soal panlih calon Wabup Bekasi, menurut saya, siapa yang ada duit pasti disitu orang akan memihak, apa sih tujuannya kalau bukan demi kekuasaan kedepannya,” sindir dia.

Siapapun Bupati dan Wakil Bupati nya tetap saja masyarakat sulit mencari lapangan pekerjaan, sulit mencari rejeki, tetap saja masyarakat susah payah mengais rejeki di sebuah kabupaten yang punya kawasan Industri terbesar se Asia Tenggara, karena pemda dan kepala daerah tidak serius ngurus bagaimana perekonomian masyarakatnya. (FB)

Facebooktwittergoogle_plusmail