Fakta Bekasi, CIKARANG PUSAT- Pengamat Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bekasi Karawang (UMBK), Hamludin menanggapi penerimaan puluhan pegawai baru Perumda Tirta Bhagasasi. Hamludin menilai, peneraan pegawai baru perusahaan plat merah ini menandakan dua kemungkinan, yaitu kas keuangan perusahaan sehat atau adanya intervensi politik yang menitipkan keluarga (sanak saudara) bekerja.
“Jika keuangan perusahaan sehat, itu bagus. Berarti model bisnis yang dijalankan baik, meskipun TB adalah perusahaan berbasis layanan masyarakat. Tetapi jika karena intervensi, akan semakin membebani keuangan daerah,” terang Hamludin.
Ditambahkan, kenapa penerimaan pegawai baru Perumda dapat membebani keuangan daerah, sebab sumber anggaran Perumda Tirta Bhagasasi berasal dari APBD.
“Mungkin mereka (direksi) memahami bahwa Perumda TB tidak akan mungkin tutup, kareba ada penopang anggaran daerah. Tetapi ini menjadi beban pembiayaan daerah yang semakin besar,” katanya.
Sekedar informasi, berdasarkan laporan laba rugi BUMD 31 Desember tahun 2024 dan 2023, laporan keuangan Perumda TB yang belum teraudit mencatat beban keuangan perusahaan sebesar Rp739 miliar lebih. Sementara pendapatan sebesar Rp733 miliar lebih, rugi hampir Rp6 miliar.
Sebelumnya, Komisi I DPRD Kabupaten Bekasi menganggap penerimaan puluhan pegawai baru Perumda Tirta Bhagasasi wajar, asalkan bukan titipan dan transaksional. Hal ini lantaran kebutuhan perluasan jalur distribusi air yang mengharuskan penambahan pegawai. Meski, ada hak lembur pegawai yang harus dipangkas karena dianggap pemborosan dan efisiensi.
Mahasiswa Universitas Pelita Bangsa (UPB) Bagus Triarsa mempertanyakan penerimaan pegawai baru Perumda Tirta Bhagasasi. Bahkan diduga penerimaan pegawai baru tidak lepas dari titipan ‘orang kuat’ dan orang yang rela merogoh kantong lebih dalam agar bisa bekerja di ‘tempat basah’ ini.
Bagus juga menambahkan, penerimaan pegawai di perusahaan plat merah ini terus terjadi setiap tahunnya. Praktik penerimaan pegawai dengan cara transaksional sudah bukan lagi rahasia. Nilai nya pun cukup besar, antara Rp25-100 juta tergantung penempatan dan jenis pekerjaannya. (***)