Fakta Bekasi, CIKARANG PUSAT – Seleksi direksi dan dewan pengawas Perumda Tirta Bhagasasi sudah hampir selesai. Namun dari nama-nama calon yang lulus, diketahui beberapa nama pernah bermasalah dan memiliki kaitan kekeluargaan dengan mantan Dirut Perumda Tirta Bhagasasi, Usep Rahman Salim. Hal ini perlu menjadi penilaian bagi Bupati Bekasi untuk menunjuk direksi dan dewan pengawas yang kredibel serta tidak disusupi kepentingan pejabat terdahulu.
Berdasarkan data dari Pansel Perumda Tirta Bhagasasi, diketahui calon Direktur Umum Daud Husin sebelumnya pernah menjabat sebagai karyawan bagian tata usaha Yayasan Al-Azhar Kemang Pratama, Kota Bekasi. Daud diberhentikan diduga menggelapkan anggaran Yayasan. Calon direktur Teknik Rika Nursantika diketahui merupakan keponakan dari Usep Rahman Salim mantan Dirut Perumda Tirta Bhagasasi.
Calon dewan pengawas Asep Tatang Kurnia pernah menjabat sebagai Kabag Umum Perumda dan Ketua DKM Masjid Baiturrahman diduga mengambil dan menyalurkan dana infaq pegawai Perumda tanpa ada laporan pertanggungjawaban.
Ketua Umum LSM Kompi Ergat Bustomy Ali berpendapat, adanya calon direksi dan dewas yang bermasalah dan memiliki hubungan kekeluargaan sangat berpotensi merusak Perumda Tirta Bhagasasi, baik secara kelembagaan maupun individu. Calon-calon yang pernah bermasalah dengan penggelapan anggaran, tambah Ergat, jangan sampai menduduki posisi penting. Hal ini bisa memicu tindakan korupsi, karena anggaran perumda sangat besar.
“Kalau sampai terpilih, ini merupakan kesalahan terbesar pemilik modal. Orang yang menduduki jabatan direksi harus orang yang berintegritas, bukan orang yang bermasalah, apalagi bermasalah terkait dugaan penggelapan anggaran. Jangan sampai perumda malah memberikan ruang bagi mereka untuk menggelapkan anggaran yang lebih besar lagi,” ungkapnya.
Ergat juga menyikapi adanya keponakan mantan dirut Perumda Tirta Bhagasasi yang lulus menjadi calon direktur Teknik. Menurutnya, ada peran mantan dirut dalam proses seleksi dirtek sehingga keponakannya lulus. Cawe-cawe yang dilakukan mantan dirut, kata Ergat merupakan bentuk keserakahan untuk tetap menguasai Perusahaan milik daerah ini.
“Seperti tidak ada puasnya, setelah 20 tahun menjabat dan dilengserkan, kini cawe-cawe dengan keponakannya agar dapat duduk menjadi dirtek. Kami meyakini ada peran Usep dalam meloloskan keponakannya, tidak mungkin bisa semulus dan selancar ini proses seleksinya,” beber Ergat.
Ergat menambahkan, Perumda Tirta Bhagasasi harus maju dan berkembang pesat. Kini pemilik modal dihadapi dengan harus menunjuk calon direksi yang kredibel. Jika salah memilih, maka akan banyak problem internal dan eksternal yang akan terjadi. Bahkan saat ini, direktur usaha yang ditunjuk pemilik modal tanpa proses seleksi, sedang bermasalah dan akan diproses hukum dugaan perselingkuhan.
“Kita harap pilihan bupati sebagai pemilik modal tidak salah, jangan sampai konflik internal dan eksternal akan terjadi terus menerus karena salah pilih. Memilih direksi dan dewan pengawas bukan pakai kepentingan, tapi pakai logika dan track record calon direksi dan dewasnya,” tutupnya. (***)