Fakta Bekasi, Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah melalui Badan Gizi Nasional mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Pengamat Kebijakan Publik Banter Adis menilai program tersebut memberikan dampak positif terhadap pola konsumsi dan kesehatan anak-anak, terutama selama bulan Ramadhan.
Banter Adis yang juga merupakan alumni Kajian Aksi Strategis PP KAMMI menyebut, program MBG terbukti membantu meningkatkan kualitas asupan gizi bagi anak-anak penerima manfaat. Hal itu terlihat dari perubahan kebiasaan makan yang semakin teratur dan bergizi.
“Selama bulan Ramadhan program MBG terbukti memberikan dampak positif, bahkan bisa disebut membuat anak-anak menjadi lebih sehat karena asupan gizinya lebih terjaga,” ujar Adis dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Penilaian tersebut sejalan dengan hasil kajian yang dilakukan Research Institute of Socio-Economic Development (RISED). Dalam penelitian tersebut ditemukan adanya perubahan signifikan dalam rutinitas makan anak-anak yang menerima manfaat dari program MBG.
Sekitar 80 persen orang tua menyatakan bahwa setelah adanya program MBG, anak-anak mereka menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi. Selain itu, sebanyak 81 persen orang tua dari keluarga prasejahtera juga menyatakan mendukung keberlanjutan program tersebut.
Menurut Adis, temuan tersebut menunjukkan bahwa program MBG tidak hanya diterima dengan baik oleh masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi kesehatan anak-anak.
Ia juga mengapresiasi kinerja Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, beserta jajaran yang dinilai berhasil menjalankan program tersebut secara luas dan efektif.
“Keberhasilan program MBG ini tentu tidak lepas dari kerja keras Kepala BGN dan seluruh jajaran. Program ini sangat baik dan selama Ramadhan juga terpublikasi dengan baik sehingga masyarakat semakin terbuka dan menyambut positif,” katanya.
Program MBG yang dijalankan pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) saat ini bahkan menjadi salah satu program makan sekolah terbesar di dunia. Berdasarkan data per 3 Maret 2026, jumlah penerima manfaat program ini telah mencapai 61.239.037 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 49.057.682 di antaranya merupakan siswa sekolah.
Data global yang dihimpun dari World Food Programme (WFP) juga menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah penerima manfaat program makan sekolah. Posisi pertama ditempati India dengan 118 juta penerima, sementara Indonesia berada di atas negara besar lainnya seperti Brasil dengan 38,5 juta penerima, China 34,57 juta penerima, serta Amerika Serikat 30,1 juta penerima.
Capaian tersebut dinilai mencerminkan komitmen kuat pemerintah dalam memastikan pemenuhan gizi anak-anak usia sekolah sebagai bagian dari upaya pembangunan sumber daya manusia.
Adis menilai program MBG tidak hanya berperan dalam meningkatkan asupan gizi anak, tetapi juga berdampak terhadap peningkatan konsentrasi belajar serta kesehatan generasi muda.
Ia pun menyatakan dukungannya terhadap keberlanjutan program tersebut sebagai bagian dari investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.
“Program ini sangat penting untuk memastikan anak-anak mendapatkan gizi yang cukup. Kami tentu mengapresiasi kerja keras Kepala BGN dan seluruh jajaran serta mendukung penuh program ini agar pemenuhan gizi anak terpenuhi dan target Indonesia Emas 2045 dapat tercapai,” pungkasnya. (***)