Fakta Bekasi
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Politik
  • Hukum
  • Bisnis
Search
  • Advertise
© 2024 Fakta Bekasi Media. All Rights Reserved.
Reading: PP KAMMI Kecam Kenaikan Harga Pertamax, Berpotensi Memicu Inflasi dan Menambah Beban Hidup Rakyat
Share
Sign In
Notification
Latest News
PP KAMMI Kecam Kenaikan Harga Pertamax, Berpotensi Memicu Inflasi dan Menambah Beban Hidup Rakyat
Pemerintahan
FKHR EJIP, Manajemen EJIP dan LPM Mitra Industri Sukaresmi Sepakati Empat Program Prioritas Pemberdayaan Masyarakat
Pemerintahan
Gara-Gara Ruislag Aset Desa Mekarwangi Diduga Tabrak Permendagri, Aktivis Siap Lapor Kejati
Pemerintahan
Raker MUI, Nusron Wahid Tekankan Keseimbangan Sistem Penanggulangan Bencana
Pemerintahan
Beri Kuliah Umum di UNWAHAS, Menteri Nusron Ingin Ciptakan Restrukturisasi Distribusi Tanah
Pemerintahan
Aa
Aa
Fakta Bekasi
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Politik
  • Hukum
  • Bisnis
Search
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Politik
  • Hukum
  • Bisnis
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2024 Fakta Bekasi Media. All Rights Reserved.
Fakta Bekasi > Blog > Pemerintahan > PP KAMMI Kecam Kenaikan Harga Pertamax, Berpotensi Memicu Inflasi dan Menambah Beban Hidup Rakyat

PP KAMMI Kecam Kenaikan Harga Pertamax, Berpotensi Memicu Inflasi dan Menambah Beban Hidup Rakyat

admin Published 10/06/2026
Share
3 Min Read
PP KAMMI

Fakta Bekasi, BEKASI- PT Pertamina Patra Niaga resmi mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green 95 yang berlaku mulai Rabu, 10 Juni 2026. Berdasarkan data resmi perusahaan, harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara itu, Pertamax Green 95 (RON 95) mengalami kenaikan dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Umum PP KAMMI, Ammar Multazim, menyampaikan kecaman atas kenaikan harga Pertamax yang dinilai semakin membebani masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang masih menghadapi berbagai tekanan. Meski berstatus BBM non-subsidi, kenaikan harga yang mencapai lebih dari 32 persen tersebut berpotensi menimbulkan dampak luas terhadap aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat.

“Kenaikan harga Pertamax berpotensi menciptakan efek domino terhadap perekonomian nasional. Ketika biaya energi melonjak, biaya distribusi dan logistik ikut meningkat yang kemudian mendorong kenaikan harga barang dan jasa. Pada akhirnya, rakyat kembali menjadi pihak yang harus menanggung dampaknya melalui meningkatnya biaya hidup dan terus melemahnya daya beli,” ujarnya.

Ammar juga menegaskan bahwa kenaikan harga BBM berpotensi memicu tekanan inflasi, mengingat biaya energi merupakan komponen utama dalam struktur biaya produksi dan distribusi berbagai kebutuhan masyarakat.

“Kami menilai kenaikan harga BBM ini sebagai ancaman serius terhadap stabilitas inflasi nasional. Ketika biaya energi naik, seluruh struktur biaya produksi dan distribusi ikut terdorong naik, yang pada akhirnya memicu kenaikan harga barang secara luas. Jika tidak dikendalikan, kondisi ini akan mempercepat laju inflasi dan semakin menggerus daya beli masyarakat. Pemerintah tidak boleh abai terhadap risiko ini dan harus segera mengambil langkah tegas untuk menstabilkan harga,” tegasnya.

Ketua Bidang Kebijakan Publik PP KAMMI, Arsandi, menyampaikan penolakan keras atas kenaikan harga Pertamax yang dinilai semakin membebani masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Ia mendesak pemerintah untuk membatalkan kebijakan tersebut.

“Kami menolak dan mendesak pemerintah untuk membatalkan kenaikan harga Pertamax. Di tengah daya beli masyarakat yang melemah dan harga kebutuhan pokok yang terus meningkat, kebijakan ini hanya akan menambah tekanan ekonomi rakyat. Pemerintah seharusnya fokus pada upaya menjaga stabilitas harga serta melindungi kesejahteraan rakyat, bukan mengeluarkan kebijakan yang berpotensi memperburuk kondisi ekonomi rakyat,” tegas Arsandi.

Selain itu, Arsandi juga mendesak pemerintah menyiapkan langkah mitigasi khususnya terhadap potensi lonjakan permintaan BBM bersubsidi. Menurutnya kenaikan tersebut mendorong perpindahan konsumsi masyarakat ke BBM bersubsidi, sehingga pemerintah wajib menjamin stok dan distribusi BBM bersubsidi secara merata di seluruh daerah. Pemerintah juga harus memperketat pengawasan untuk mencegah penimbunan dan praktik spekulatif yang dapat memperburuk situasi. (***)

You Might Also Like

FKHR EJIP, Manajemen EJIP dan LPM Mitra Industri Sukaresmi Sepakati Empat Program Prioritas Pemberdayaan Masyarakat

Gara-Gara Ruislag Aset Desa Mekarwangi Diduga Tabrak Permendagri, Aktivis Siap Lapor Kejati

Raker MUI, Nusron Wahid Tekankan Keseimbangan Sistem Penanggulangan Bencana

Beri Kuliah Umum di UNWAHAS, Menteri Nusron Ingin Ciptakan Restrukturisasi Distribusi Tanah

Tak Serumit yang Dibayangkan, Warga Buktikan Urus Sertipikat Tanah Sendiri Lebih Mudah

admin 10/06/2026
Share this Article
Facebook Twitter Copy Link Print
Previous Article FKHR EJIP, Manajemen EJIP dan LPM Mitra Industri Sukaresmi Sepakati Empat Program Prioritas Pemberdayaan Masyarakat

Paling Banyak Dibaca

Ngeyel, SDN 02 Waluya Masih Wajibkan Siswa Berenang
Pemerintahan 22/05/2026
Bikin Bangga! Dua Pemain Muda Kab. Bekasi Tembus Timnas Pelajar U-15 untuk Berlaga di Malaysia
Olahraga 28/05/2026
LPCK Perbarui Jajaran Dewan Komisaris dan Direksi, Perkuat Momentum Pertumbuhan Properti
Bisnis 12/05/2026
Hormati Proses Hukum, Ahmad Dedi Bantah Lari karena Dugaan Terlibat Suap
Hukum 10/05/2026
SDN 02 Waluya Wajibkan Siswa Berenang, Ortu Siswa Mengeluh
Pendidikan 18/05/2026
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad image
- Advertisement -
Ad image
Fakta Bekasi
Follow US

© 2024 Fakta Bekasi Media. All Rights Reserved.

Removed from reading list

Undo
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?