Home / Pendidikan / Konflik Sungai Nil antara Ethiopia, Mesir, dan Sudan

Konflik Sungai Nil antara Ethiopia, Mesir, dan Sudan

Facebooktwittergoogle_plusmail
Ilustasi

Benua Afrika merupakan benua yang memiliki banyak kekayaan flora dan fauna sehingga banyaknya kekayaan ini menimbulkan berbagai permasalahan yang harus dihadapi, salah satu permasalahan yang terjadi di Afrika yaitu kelangkaan air. Kelangkaan air yang terjadi di Afrika bukan lagi hal yang baru. Di tengah kondisi perubahan iklim dan pertumbuhan populasi menjadi potensi naiknya kelangkaan air di Afrika. Mengingat betapa pentingnya air dalam kehidupan menyebabkan adanya kompetisi untuk mengamankan komoditas air yang kemudian dapat memicu adanya konflik. Sungai Nil merupakan salah satu kekayaan yang ada di Afrika, Sungai ini berada di Timur Laut Afrika ya. ng  memiliki panjang lebih dari 6.500 km dan merupakan Sungai terpanjang kedua di dunia. Sungai ini mengaliri beberapa negara, seperti Ethiopia, Mesir, dan Sudan. Sungai Nil memiliki dua anak Sungai yakni Nil Biru dan Nil Putih yang akan bertemu di utara Khartoum, ibukota Sudan, lalu mengalir ke Mesir dan berakhir di delta besar, dan berlanjut ke Laut Mediterania.

Awal Mula Konflik

Di tahun 2011 konflik terjadi ketika Ethiopia mengumumkan  perencanaan Pembangunan Bendungan Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD). Dimana proyek GERD dinilai sebagai kebutuhan eksistensial dan sebuah ancaman eksistensial yang pada akhirnya konflik ini tidak hanya berkisar pada sumber daya fisik namun juga meluas hingga ke identitas kedua negara. Pembangunan GERD ini ditentang oleh banyak pihak, Mesir dan Sudan merupakan pihak yang menentang Pembangunan GERD karena dapat mengurangi aliran air Sungai ke kedua negara tersebut. Dikeluarkannya perjanjian Nile Waters Agreements bertujuan untuk mencegah konflik dan mengatur pembagian akses pada Sungai Nil, akan tetapi hal ini tidak menjamin tidak ada timbulnya kendala-kendala yang kemudian akan terjadi.

Sejak dimulainya pembangunan proyek GERD pada tahun 2011, Kairo menegaskan bahwa proyek GERD akan menimbulkan ancaman terhadap stabilitas Mesir dan regional, dan khususnya terhadap keamanan udara Mesir. Pembangunan ini ditentang oleh Mesir karena dianggap akan menimbulkan ancaman terhadap stabilitas dan regional, khususnya terhadap keamanan udara Mesir.  Diketahui Mesir mendapatkan pasokan air sejumlah 85℅ setiap tahunnya  dari sungai Nil dalan upaya pemenuhan kebutuhan air akan aktivitas rumah tangga, pertanian dan transportasi, lalu pembangunan GERD memicu banyak kontrovensi karena Mesir dan Sudan merupakan dua negara yang dialiri oleh Sungai Nil. Sungai Nil merupakan sungai yang dialiri oleh beberapa anak sungai lainnya yakni sungai Nil Biru dan Sungai Nil putih. Sungai Nil Biru merupakan anak sungai yang menyumbang 70% ke hulu Sungai Nil. Sungai Nil Biru melewati negara Ethiopia sehingga pembangunan GERD menjadi permasalahan bagi Mesir dan Sudan yang berada di hulu Sungai Nil karena pembangunan GERD menghambat aliran air ke hulu Sungai Nil. Mesir dan Sudan sangat bergantung pada sungai Nil karena menurut mereka 1% penurunan volume Sungai Nil akan berdampak kepada sebagian besar masyarakat nya yang bekerja di sektor pertanian sehingga sangat membutuhkan aliran air dari sungai Nil.  Hal tersebut menjadi alasan Mesir menentang keras pembangunan GERD oleh Ethiopia. Sebaliknya, Ethiopia berpendapat bahwa GERD adalah proyek pembangunan dan bukan proyek politik berbasis keamanan. Rasa Ketidakamanan muncul ketika perkembangan internal dan eksternal mengganggu kelangsungan identitas dan pandangan dunia yang sudah mapan. Maka dapat dikatakan bahwa proyek GERD mengancam kelangsungan dunia. Dengan demikian, perkembangan proyek tersebut dapat memaksa Mesir untuk mendefinisikan kembali identitas nasionalnya yang berpusat di Sungai Nil. Konflik berlanjut dan semakin meningkat pada tahun 2013 ketika Ethiopia mengalihkan sungai untuk membangun bendungan.

Kepentingan Nasional Ethiopia

Keberanian Ethiopia untuk menentang perjanjian 1929 dan 1959 didasarkan pada kerugian dan ketidakrelevan isi perjanjian tersebut terhadap Ethiopia. Ethiopia merupakan negara miskin dan masih dalam proses perjuangan untuk menghadapi kekeringan menyebabkan Ethiopia membangun Grand Ethiopian Renaissance Dam. Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD) adalah bendungan pembangkit listrik tenaga air besar pertama yang dibangun Ethiopia di atas Sungai Nil. GERD  merupakan salah satu bendungan terbesar di dunia yang akan menghasilkan 6000 megawatt listrik dan menampung 74 juta cm kubik air. Pentingnya proyek GERD secara nasional sebagai sumber listrik yang berkelanjutan, serta konsekuensi ekonomi dan sosial dari terdegradasinya penggunaan lahan di daerah aliran sungai, pengelolaan lahan untuk mengurangi erosi akan menghasilkan manfaat jangka panjang di berbagai tingkat di Ethiopia. Pembangunan ini dapat menjadi pendorong Ethiopia untuk bangkit dari keterpurukan dan dapat menjadi negara dengan perekonomian yang stabil.

Pemerintah Ethiopia membangun bendungan GERD untuk mencapai kepentingan nasional mereka dalam bidang infrastuktur dan juga perekonomian negara mereka. Berbagai evaluasi pun telah dilakukan oleh pemerintah Ethiopia untuk membangun bendungan GERD ini. Pemerintah Ethiopia mengklaim bahwa tidak akan ada kerugian akibat dari pembangunan GERD terhadap negara-negara sekitarnya seperti Mesir dan Sudan. Justru adanya pembangunan GERD dapat membangun relasi kembali dengan negara-negara Afrika. Hal tersebut juga berdampak positif bagi Mesir dan Sudan karena dapat membangun citra yang positif bagi kawasan dan negara tetangga. Kepentingan politik Mesir dan Sudan dapat tercapai dengan baik kedepannya melalui relasi yang baik dengan negara Afrika lainnya. Dari sisi politik inilah Mesir harus memikirkan jangka panjang dari pemanfaatan GERD. Uni Afrika juga menilai bahwa pembangunan GERD merupakan sebuah kemajuan dalam ekonomi Afrika sehingga meminta Mesir bersedia untuk ‘berbagi’. Sedangkan Mesir membawa Liga Arab, hubungan Ethiopia pada negara-negara Arab secara historis memang tidak baik setelah pengakuan Ethiopia pada Israel tahun 1950. Namun krisis internal Liga Arab pada tahun 2017 membawa dukungan pada Ethiopia. Mesir yang ikut menjadi bagian negara yang mempromosikan ‘kebencian’ pada Qatar membuat peta politik Qatar berpindah mendukung Ethiopia bersama dengan Turki Power dan dukungan yang didapatkan Mesir membuat kontrol Mesir pada Sungai Nil melemah serta waktu yang dibuang membawa pembangunan GERD menuju proses akhir. Selama krisis berlangsung, pembangunan GERD tidak dihentikan. Akhirnya Mesir membawa permasalahan ini pada PBB, namun PBB yang bertindak secara netral memberikan solusi yang tidak menguntungkan pada Mesir. PBB melihat permasalahan ini memiliki inti pada pengisian bendungan, sehingga PBB menyarankan Ethiopia untuk mengisi GERD selama 15 tahun.

Penulis : Evantio Yudhistira Mahasiswa Hubungan Internasional UTY LMND DIY

Facebooktwittergoogle_plusmail

About admin

Check Also

Geopolitik Dan Geoekonomi Belanda Terkait Pusat Utama Supply Chain Di Eropa

Syifa Syahrani Bachmid Mahasiswa Hubungan Internasional Uninersitas Teknologi Yogyakarta LMND DIY BELANDA merupakan salah satu …